Mewaspadai Informasi

Informasi dijaman digital ini layaknya anak panah yang diterbangkan pada setiap perang-perang klasik. Setiap satu persatu anak panah yang terbang bisa saja menjadikan tubuh terluka dan bahkan mampu membuat  jiwa seseorang melayang. Begitupun informasi baik yang lepas busur dalam bentuk lisan maupun tulisan, mampu melumpuhkan tendensi seseorang layaknya dalam medan perang.

Informasi adalah berita, kabar yang disampaikan untuk menyatakan sebuah peristiwa yang terjadi maupun yang akan terjadi. Informasi mengandung petunjuk ilmu agar orang lain menjadi tahu akan sesuatu yang belum diketahui, atau orang yang telah tahu menjadi yakin akan apa yang ia ketahui.

Menurut Wikipedia, Informasi adalah pesan (pesan ucapan atau ekspresi) atau kumpulan pesan yang terdiri dari order sekuens dari simbol, atau makna yang dapat ditafsirkan dari pesan atau kumpulan pesan. Informasi bisa dikatakan sebagai pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran, pengalaman, atau instruksi. informasi yang berupa koleksi data dan fakta seringkali dinamakan informasi statistik.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) informasi 1. Penerangan, 2. Pemberitgahuan, kabar atau berita tentang sesuatu, 3. Keseluruhan makna yang menunjang amanat dalam bagian-bagian amanat itu.

Nah kan…. sudah pada tahu atau pada ingat deh sekarang. Bahwa informasi itu sebagiannya adalah ilmu. Sekarang informasi sudah sedemikian merajalela di jagat maya apa lagi, banyak bertebaran informasi yang ternyata bukan “mencerahkan” melainkan menyesatkan. Yang akhir-akhir ini ngetren dengan sebutan hoax (dibaca hoks).

Sudah pada tahu gak apa itu hoks?

Berita palsu atau berita bohong atau hoks (bahasa Inggrishoax) adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Hal ini tidak sama dengan rumorilmu semu, maupun April Mop.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘hoaks’ adalah ‘berita bohong.’ Dalam Oxford English dictionary, ‘hoax’ didefinisikan sebagai ‘malicious deception’ atau ‘kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat’.

Dikutip dari NU.ID Sa’dullah Afandy mengatakan Informasi hoax yang massif dan bergentayangan di tengah masyarakat dari satu gadget ke gadget yang lain disantapnya tanpa sensor, seolah menjadi kebenaran. Informasi hoax sudah dianggap sebagai berita haq, fakta yang mutawatir, hal ini sunggguh memprihatinkan.

Ini kejadian yang luar biasa diabad digital kita hari ini. Persebaran informasi atau berita palsu (bohong) semakin meraja lela. Lalu bagaimana cara kita menangkal dan mengolah informasi agar tidak termakan berita hoks.

Begini caranya..

Seperti yang terlansir pada halaman kompas.com, Minggu (8/1/2016), Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho menguraikan lima langkah sederhana yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana berita hoax dan mana berita asli. Berikut penjelasannya:

  1. Hati-hati dengan judul provokatif

Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya pun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax.

Oleh karenanya, apabila menjumpai berita dengan judul provokatif, sebaiknya Anda mencari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Dengan demikian, setidaknya Anda sebabagi pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.

  1. Cermati alamat situs

Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi -misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita.

Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.

  1. Periksa fakta

Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat.

Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh.

Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.

  1. Cek keaslian foto

Di era teknologi digital saat ini , bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca.

Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.

5. Bergabung dengan grup anti hoks

(Sumber Kominfo.go.id)

Semoga bermanfaat ya gaes….